Tampilkan postingan dengan label Antioksidan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antioksidan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Bahaya Jus Buah Kemasan

http://puskesmasonline.blogspot.com/2013/12/bahaya-jus-buah-kemasan.html
Dari kemasannya, siapa yang tak suka jus buah. Warnanya tentu memikat setiap orang yang melihatnya. Apalagi jika disajikan dingin, hmm..siapa yang bisa menolak. Bagi sebagian orang jus buah dalam kemasan sangat nnembantu karena praktis, efektif, dan efisien dibawa kemana pun. Dan menyehatkan tentunya. Hal itulah yang selama ini tertanam dalam benak kebanyakan orang.

Namun sebuah penelitian di Australia menunjukkan hasil mengejutkan. Jus buah berpotensi menyebabkan kanker. Penelitian itu menyatakan kandungan gula tambahan yang ada pada jus buah justru meningkatkan risiko kanker tertentu, terutama kolon dan usus. Tak hanya itu, ketika jus buah diproses dalam kemasan, banyak kandungan zat pencegah kanker hilang. Para ilmuwan meneliti pola diet 2.200 orang dewasa. Semuanya diminta mengisi kuesioner tentang kebiasaan makan mereka sehari-hari. Tim kemudian memantau kesehatan peserta selama dua tahun untuk rnelihat ada tidaknya penyakit yang berkembang. Mereka yang mengkonsumsi apel, selada, kembang kol, dan brokoli dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Namun mereka yang minum banyak jus buah ternyata mempunyai risiko lebih tinggi terkena penyakit.

Tak hanya itu, hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of American Dietetic Association ini menemukan fakta yana cukup mencengangkan. Mereka yang minum jus buah lebih dari tiga gelas sehari lebih rentan terkena kanker kolon, salah satu turunan kanker usus. Pasalnya, kandungan vitamin C antioksidan, dan serat pada buah, yang dapat melindungi tubuh dari penyakit, lenyap saat proses pengolahan jus. Selain itu, kandungan gula yang tinggi dalam jus diyakini dapat memicu jenis tumor tertentu. 

Sepakat dengan tim penelitian di Australia, peneliti dari Bangor University, Wales, menyatakan jus buah mengandung gula yang lebih tinggi. Mereka merekomendasikan plum atau buah kering lainnya.

Menurut Sarah Clark, peneliti dari Child Health Evaluation and Research Unit di University of Michigan, Amerika Serikat, jus buah kemasan tak hanya menyebabkan kanker kolon, tapi juga bisa menyebabkan obesitas dan merusak gigi pada anak-anak. Hal itu tak lain disebabkan oleh kandungan gula tambahan yang terlalu tinggi serta minimnya nutrisi pada jus kemasan.

Sebaiknya hindari jus buah dalam kenaasan yang berlabel "juice cocktail", "juice flavored beverage", atau "juice drink". Jus buah dalam kemasan tersebut, hanya mengandung sedikit buah asli, sedangkan sisanya hanyalah air serta gula tambahan. Secara nutrisi, minuman ini sama saja dengan soft drink kaya akan gula dan kalori tapi rendah nutrisi.

Ikatan Dokter Anak di Amerika Serikat menyarankan, dalam sehari hendaknya tak lebih dari satu kali konsumsi jus buah segar atau tanpa diberi tambahan gula. Selama bertahun-tahun, Departemen Kesehatan di Inggris dan Amerika menyarankan masyarakat makan lima porsi buah dan sayuran setiap hari, yang mencakup jus buah di dalamnya. 

Meski demikian, perteliti lain mengungkapkan orang tidak perlu menghindari jus buah sepenuhnya karena minuman ini masih tergolong sehat dan aman dikonsumsi. Nell Barrie, peneliti dari Cancer Research, Inggris, menerangkan hasil penelitian terbarunya. "Penelitian itu bukan sesuatu yang besar dan signifikan. Kita tidak mendapat informasi yang jelas tentang diferensiasi jenis buah dan sayur yang meningkatkan risiko kanker atau bukan. 

Masih diperlukan sejumlah penelitian lagi untuk benar-benar menguatkan hasil penelitian tersebut. Berdasarkan bukti ilmiah tepercaya, makan terlalu banyak daging merah dan makanan olahan dapat meningkatkan risiko terkena kanker. Cara menghindarinya adalah banyak makan makanan berserat tinggi. Buah dan sayuran tetap jadi sumber serat yang baik. Risiko kanker usus bisa diminimalkan dengan mengkonsumsinya. 

Menurut dokter ahli gizi dr Fiastuti Witjaksono, Msc, MS, SpGK, cara terbaik mengkonsumsi buah adalah memakannya secara langsung. Kandungan gizi serta vitamin didalamnya masih terjaga dan belum terkontaminasi bahan apa pun. Kalau mau buah dijus, silakan saja. Tapi sebaiknya yang dibuat sendiri di rumah. Itu jauh lebih baik dan higienis karena tidak ada bahan pemanis buatan atau pengawet lain.

Senin, 14 Oktober 2013

Cegah Stroke dengan Jeruk dan Anggur

http://puskesmasonline.blogspot.com/2013/10/cegah-stroke-dengan-jeruk-dan-anggur.htmlJeruk dan anggur tentunya bukan hal asing lagi. Kedua buah yang kaya vitamin C dan mengandung antioksidan ini mudah sekali ditemui di pasar tradisional hingga pasar modern. Rasanya yang asam manis cenderung banyak disukai anak kecil hingga dewasa. 

Nah, beruntunglah bagi Anda yang gemar menyantap jeruk dan anggur, terutama bagi kaum perempuan. Pasalnya, selain kaya vitamin C dan antioksidan, kedua buah ini ternyata dapat mengurangi risiko terkena penyakit stroke. Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Norwich Medical School, University of East Anglia, terhadap sekitar 70 ribu wanita menyelidiki tentang flavonoid, yakni senyawa antioksidan yang biasa terdapat pada buah-buahan, sayuran berwarna cokelat gelap, dan anggur merah. "Penelitian telah menunjukkan buah dan sayuran dengan kandungan vitamin C yang tinggi dapat mengurangi risiko stroke."

Responden diminta melaporkan asupan makanan mereka, termasuk perincian konsumsi buah dan sayuran setiap empat tahun. Tim peneliti menguji hubungan di antara enam subkelas utama flavonoid, yakni flovanones, anthocyanin, flavan-3-OLS, polimer flavonoid, flavonol, dan flavon. Keenamnya dengan risiko ischemic, hemorrhagic, dan total stroke. "Flavonoid diduga memberikan beberapa perlindungan lewat mekanisme organ tubuh, terutama meningkatkan fungsi pembuluh darah dan memberi efek antiinflamasi". 

Hasil penelitian menyatakan wanita yang mengkonsumsi flovanones yang terkandung dalam jeruk dengan jumlah yang tinggi memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena stroke. Flavanones berperan sebagai "pencair" pembekuan darah dalam tubuh. Konsumsi terbaik flovonones adalah 45 miligram per hari. Segelas jus jeruk mengandung 20-50 mg flovanones, bergantung pada pengolahan dan kondisi penyimpanan. Studi yang dilaporkan Medicol fournal Stroke menyatakan setidaknya 82 persen flavanones dihasilkan jeruk dan jus jeruk dan 14 persen dari anggur dan jus jeruk Bali. "Manfaat maksimal jeruk bisa diperoleh dengan makan lebih banyak buah secara keseluruhan dibanding jus kalengan. Sebab, kadar gula jus kalengan lebih tinggi dibanding buah segar". 

Meski penelitian dilakukan terhadap puluhan ribu wanita, para peneliti percaya manfaatnya juga dapat dirasakan oleh laki-laki. Studi yang dilakukan terhadap wanita Swedia yang gemar mengkonsumsi buah dan sayuran antioksidan tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena stroke, yakni sebanyak 50 persen. "Penelitian lebih banyak diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan antara konsumsi flovanones dan risiko stroke, serta mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang mengapa ked uanya berkaitan". 

Hampir semua jenis buah dan sayuran baik bagi kesehatan. Studi ini menunjukkan sesuatu yang lebih spesifik, yakni jeruk dan anggur,terbukti dapat menurunkan risiko stroke . Tapi sebaiknya temuan ini tidak membatasi orang untuk makan berbagai jenis buah dan sayuran lain karena semua memiliki manfaat kesehatan dan tetap menjadi bagian penting dalam diet pokok.

Data statistik di Amerika Serikat menyatakan setidaknya setiap tahun terdapat 750 ribu kasus stroke baru. Artinya, setiap 45 menit, ada satu orang di Amerika yang terkena serangan stroke. Sedangkan di Inggris, dari sekitar 120 ribu orang terkena stroke setiap tahunnya, 20-30 persen meninggal dalam waktu satu bulan, sedangkan 300 ribu orang cacat akibat stroke. 

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Yayasan Stroke Indonesia, pada 2007 diperkirakan sekitar 500 ribu penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiga bisa pulih kembali, sepertiganya lagi mengalami gangguan fungsionaI ringan sampai berat. Selain itu, penyakit ini menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia. 

Ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Inge Permadi, MS, SpGK, mengatakan jumlah penderita stroke di Indonesia kini juga tak jauh beda dengan di Amerika Serikat. Stroke terbanyak justru menyerang pada usia produktif. "Semua orang dapat mengurangi risiko stroke asal dapat menjaga serta mengatur pola makan. Makanlah dengan pola diet seimbang yang rendah lemak jenuh dan garam serta berolahraga teratur," katanya.